Dari Bali untuk dunia..

Dari Bali untuk dunia...

Organisasi kesehatan dunia WHO sudah mengumumkan secara resmi bahwa virus corona telah menyebar ke seluruh dunia. Ajakannya kemudian, mari menggunakan apa yang ada di lingkungan masing-masing untuk memperkecil dampak negatif virus corona. Dan di pulau cinta kasih Bali, ada banyak kearifan tua yang diharapkan bisa ikut menyelamatkan dunia.

Sebuah tempat di Bali yang telah menyembuhkan jutaan manusia dari seluruh dunia bernama Ubud. Ia berarti obat. Yang layak direnungkan lebih dalam, Ubud berada di Bali tengah. Ia sedang berbagi pesan pada dunia, jika mau terobati di zaman ini, selalu bimbing diri agar tumbuh di tengah. Di tengah itulah keseimbangan lebih mungkin tercapai.

Sahabat-sahabat yang mendalami hubungan dekat antara body (tubuh), mind (pikiran) dan spirit mengerti, begitu seseorang seimbang di tengah, kemungkinan sehat dan selamatnya tinggi sekali. Ajakannya, mari belajar seimbang dalam arti seluas-luasnya. Dari seimbang antara material spiritual, sampai seimbang antara membahagiakan diri dan orang lain.

Salah satu ciri khas orang Bali dan pulau Bali, di setiap gerakan kehidupan ada pengaruh alam niskala (alam tidak terlihat). Dan ini dibenarkan oleh kerangka modern yang menyebut manusia dibentuk oleh tiga unsur penting: "Fisik, non fisik, meta-fisika". Di sini dijelaskan unsur terlihat (fisik) bahkan hanya sepertiga. Dan energi sebagai kekuatan sangat penting di alam juga tidak terlihat.

Melalui cerita ini, para sahabat sedang diketok pintunya, di luar apa yang dilihat oleh logika dan bahasa manusia, masih ada dunia yang jauh lebih luas dan lebih berpengaruh. Sedihnya, dunia jenis ini tidak bisa dimengerti oleh kepala (head), ia lebih mungkin dimengerti oleh heart (hati). Agar sehat selamat, kurangi memamerkan kepintaran, mari belajar melaksanakan kebaikan. Terutama karena kebaikan membuat seseorang bervibrasi jauh lebih tinggi di atas vibrasi virus dan penyakit mana pun.

Makanya bisa dimaklumi, seorang penyair besar dari masa lalu pernah berpesan: "logika  adalah tongkat bagi jiwa yang pincang, namun ia beban berat bagi jiwa yang telah terbang". Bahasa praktisnya, mari belajar menyeimbangkan logika dengan rasa. Latih diri untuk mengerti tidak saja hal-hal yang diucapkan, tapi juga hal-hal yang tidak diucapkan.  Dalam bahasa tetua di Jawa, kurangi merasa bisa, belajar bisa merasa.

Penulis: Guruji Gede Prama

Comments

Popular posts from this blog

Mempercantik jiwa dengan doa...

Jalan menuju keselamatan...